BUDAYA DAN PRAKTEK-PRAKTEK KEKERASAN POLIGAMI DI DUNIA MUSLIM: SATU KAJIAN HISTORIS DAN TEOLOGIS

artikel

Pdt. Kalvein Mongkau, S.Ag
Disusun Oleh; Pdt. Kalvein Mongkau, S.Ag
(Segala Isi ulasan dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis)

Bab 2.
TINJAUAN HISTORIS KEKERASAN MENGATAS-NAMAKAN AGAMA

Lanjutan …..

E.Kekerasan Melalui Inkuisisi
Dalam perjalanan sejarah, ada satu gereja mayoritas eksis pada zaman kegelapan sudah dengan terang-terangan menyatakan bahwa tindakan pemaksaan gereja dengan kekerasan bagi para anggotanya yang sudah dipandang sebagai para bidaah karena pelanggaran tertentu terhadap aturan-aturan dan dogma gereja itu wajib hukumnya untuk dilakukan. Karena gereja memiliki hak memaksa kaum bidaah untuk bertobat dan mengikuti kembali ajaran-ajaran gereja dengan mencoba mendasarkannya pada ajaran Alkitab. Melalui satu lembaga yang didirikan oleh Gereja Katholik yakni Inkuisisi yang juga dikenal sebagai “dinas rahasia” dari Paus yang menghambat, menangkap, dan menghukum segala orang penyesat secara kejam, maka ada satu semboyan yang dikutip dalam Injil Lukas 14:23 yang menyebutkan, “paksalah mereka masuk!” adalah satu semboyan yang digunakan untuk memherikan semangar para inkuisitor melakukan tindakan-tindakan kekerasan mengatasa-namakan gereja. Bahkan para pemimpin gereja sudah mengindoktrinasi para eksekutor yang hendak melakukan kekerasan terhadap para bidat bahwa dengan berbuat demikian mereka maka bahwa tindakan mereka itu adalah satu tindakan untuk meningkatkan perbuatan amal dan kebajikan. Adapun tindak kekerasan yang dilakukan oleh gereja terhadap para bidat dilaksanakan oleh satu lembanga yang dikenal dengan nama Inkuisisi. Lembaga ini memiliki kewenangan penuh untuk mengadili anggota gereja yang didapati telah membangkang terhadap ajaran-ajaran gereja, yakni yang menentang doktrin dan otoritas paus. Selain mengadili para bidat, lembaga ini juga bertugas untuk mengeksekusi mereka yang tidak mau bertobat dari jalannya yang dianggap sesat. Kekerasan yang dilakukan gereja melalui Inkuisisi bertujuan untuk mencegah kemurtadan dari para pengikut gereja mayoritas itu agar tidak sampai mengkhianati iman mereka terhadap gereja. Namun semakin gereja bertindak keras melancarkan penganiayaan terhadap para penentangnya, justru para penentang itu terus saja bertambah-tambah sebagaimana yang sudah dinubuatkan dalam Wahyu 12:6, 11; 13:5, 7, 10) bahwa waktu yang Tuhan ijinkan kepadanya untuk melancarkan kekerasan dan penganiayaan yakni selama periode 1260 tahun (538-1798).

1. Kekejaman Inkuisisi
Bahkan pada era kekerasan dan penganiayaan di zaman kegelapan tersebut seperti apa yang telah dilakukan oleh Inkuisisi di suatu kota di Prancis menunjukkan kekejaman yang dianggap tidak berdosa oleh gereja. Ada satu artikel yang mengulas kekejaman inkuisisi terhadap para bidat gereja tersebut berjudul, The Roman Catholic Un-Holy Inquisition, di mana di antara beberapa paragrafnya ternyata ada penjelasan mengejutkan sebagai berikut: “Ketidak-toleransian agama bahwaInkuisisimenyebabkan perang-perang yang mana mencakup seluruh kota-kota. Pada tahun 1209, kota Beziers diambil oleh para pria yang sudah dijanjikan oleh Paus bahwa oleh mengikatkan diri di dalam perang salib melawan para bidat, mereka akan berada di jalan pintas Purgatoridan langsung masuk Sorga. Ada 60 ribu orang, dilaporkan, berada di kota ini dibinasakan oleh pedang sementara darah mengalir di jalan-jalan.” Satu hal menarik dari penjelasan mengejutkan tersebut bahwa para penguasa yang berwewenang dan bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Inkuisisi memiliki metode tersendiri untuk memobilisasi para relawan untuk bergabung dalam tentara-tentara perang salib demi memburu para bidat gereja. Para relawan ini telah dijanjikan oleh Paus bahwa mereka sedang berada perang demi pahala yang mana memberikan jaminan bahwa mereka terbebas dari dosa membunuh dan langsung masuk ke sorga dimana tidak lama berada di Purgatori. Ini tidak berbeda dengan jihad (perang demi pahala agama di akhirat) di kalangan Muslim dimana dilakukan atas seijin Allah SWT.
Seorang martir di masa Inkuisisi Roma kepausan yang berasal dari Prancis bernama Huguette, istri dari Jean de Vienne memberikan kesaksian terkait pembenaran atas tindakan pembunuhan oleh Inkuisisi gereja yang dianggap tidak melanggar atau tidak melawan kehendak Tuhan. Kesaksian ini juga salah satu bukti sejarah bahwa gereja Roma Katholik tidak menganggap bersalah atau berdosa terkait tindakan-tindakannyauntuk menghilangkan nyawa seseorang, tindakan menghukum para bidat itu dianggap mempertahankan otoritas gereja Katholik karena itu selaras dengan ajaran-ajaran agama saat itu.
Sebagaimana yang dapat dijumpai dalam artikel berjudul “Huguette, Wife of Jean de Vienne” yang berbahasa Prancis dan telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dareth Pray terbetik ulasan terkait paham gereja Katholik tentang penghukuman terhadap para pelaku kejahatan termasuk yang melawan ajaran-ajaran gereja dianggap adalah tindakan tidak berdosa, dapat dicermati sebagai berikut:
“Paduka Tuan Uskup bernama Jacques, Uskup dariLyon,Prancis, kemudian menjelaskan dengan cerdas kepada wanita bernama Huguettede la Côte, istri dari Jean de Vienne di dalam bahasa yang umum bahwa Gereja Kudus Roma Katholik dan semua orang Kristen setia dari Allah berpegang teguh, mempercayai, dan mengkhotbahkan bahwa adalah diijinkan untuk bersumpah demi untuk menyampaikan kebenaran, ketika seseorang dituntut darinya melalui keadilan, secara khusus di dalam perkara-perkara iman, dan bahwa ia yang tidak mau untuk bersumpah karena dosa-dosa; bahwa adalah diijinkan untuk bersumpah di dalam kasus-kasus lain tertentu;bahwa ada satu Purgatori sesudah kehidupan ini, di dalam mana dosa-dosa yang fana diampuni sesudah mereka sudah ditenteramkandan karena hukuman terhadap dosa-dosa yang mendatangkan maut yang mana tidak ditenteramkandi dalam kehidupan masa sekarang; bahwa misa-misa, doa-doa, sedekah-sedekah, dan perbuatan-perbuatan amal lain yang sudah dilakukan oleh orang masih hidup untuk orang yang sudah mati yang sudah berada Purgatoribekerja terhadap satu pembebasan yang lebih cepat terhadap jiwa-jiwa mereka; bahwa para pelaku tindak kejahatan dapat dibenarkan dan secara absah dijatuhi-hukuman mati oleh kekuasaan sekuler tanpa dosa; bahwa upacara ritual pengucilan seseorang (ex-communicatio) diselenggarakan oleh mereka yang memiliki kekuasaan melawan para bawahannya yang bebal mengecualikan mereka dari kerajaan Allah dan semua kebajikan rohani yang sudah dilakukan di dalam Gereja; bahwa tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya dari dosa-dosa yang sudah diakuinya, selamat hanya bagi imam.”
Kekerasan yang bernafas atau bernuansakan agama adalah lumrah di sepanjang zaman dan berbagai belahan dunia ini. Dan kekerasan yang paling menonjol sepanjang sejarah adalah disebabkan karena penyatuan antara negara dan agama. Namun fakta ini sedikit dibantah oleh Benjamin Winker dengan memberikan komentar, “salah satu mitos-mitos abadi dari negara sekuler adalah bahwa agama itu begitu berbahaya begitu mudah berubah pendiriannya, begitu mirip suatu ledakan ke dalam kebakaran besar dari kekerasan, yang hanya perlindungan yang kita miliki dari kehancuran masyarakat adalah pendirian terhadap satu tembok pemisah antara agama dari negara. Kita sudah mendengarkan cerita, dan faktanya, juga mendengarkan dongeng-dongeng bukan tanpa akhir dari horror tentang perang-perang agama besar — khususnya Perang-Perang Agama Prancis dan Perang 30 Tahun (French Wars of Religion and the Thirty Years War) — kita memang begitu kuat condong untuk memepercayai mitos tersebut. Bahkan mengajakku bahwa adalah satu mitos nampaknya keluar dari tempatnya. Itu tidak benar — faktanya, satu hal yang tak dapat disangkal— bahwa apa saja agama dan politik becampur, itu bagaikan bensin dan korek api? Bukankah itu yang sejarah ajarkan kepada kita?” Memang William Cavanaugh menulis dengan argument yang begitu kuat di dalam bukunya berjudul Myth of Religious Violence, “kita harus melihat lebih dekat pada perang-perang agama di abad ke-16 dan 17 maka kita menemukan bahwa perbedaan-perbedaan antara Katholik dan Protestan, dan perbedaan antara para penganut Protestan dan Protestan lainnya, adalah perbedaan-perbedaan sekunder kepada tujuan-tujuan dari timbulnya bangsa-negara-negara dan intrik-intrik politik dan dinasti yang beragam jumlahnya. Meletakkan secara sederhana, sebab utama dari perang-perang ini adalah sebab politik, bukanlah sebab agama.” Seperti pertanyaan yang coba dilontarkan oleh Benjamin Winker, “Bagaimana itu dapat terjadi?” Sambil mengutip ulasan dari William Cavanaugh dalam buku berjudul Myth of Religious Violence, Benjamin Winkermenulis, sebagai berikut:
“Jika perbedaan-perbedaan agama adalah alasan utama dari konflik-konflik berdarah, kemudian kita hendak berharap menemukan bahwa mereka tanpa kecuali dijumpai sepanjang garis denominasi yang rapih. Apa yang kenyataannya kita jumpai adalah bahwa para kaisar Katholik menyerang para paus, para Prancis Katholik menyerang para kaisar Katholik, para raja dan pangeran Protestan berpihak dengan para raja Katholik melawan para penganut Protestant lain, para raja penganut Lutheran dan Katholik bersatu melawan para kaisar Katholik, para bangsawan Hugenot Protestan dan para bangsawan Katholik di Prancis bersatu melawan baik para rakyat jelata Katholikmaupun Hugenot Protestan yang sebaliknya bersatu melawan para bangsawan, Protestan dan Katholik di Prancis bersatu melawan raja mereka Katholik, sedangkan para penganut Protestants menolak Persatuan Protestan (koalisi dari negara-negara Protestan Jerman Protestan) bahkan sementara beberapa penganut Katholik Katholik, Prancis Katholik menyokong para pangeran Protestan di Jerman, dan para penganut Calvinis Jerman menolong raja Katholik untuk menekan pemberontakan-pemberontakandari para penganut Calvinis Prancis, seorang penganut Lutheran memimpin tentara kerajaan Katholik, dan para prajurit upahan dari setiap strip agama menjual diri mereka sendiri kepada penawar tertinggi Katholik atau Protestan.

Di dalam pernyataannya di atas, Benjamin Wiker sepakat dengan argumen dari William Cavanaugh yang juga menulis dalam buku berjudul Myth of Religious Violence, menolak satu argumen bahwa kekerasan melalui perang-perang antara negara di Eropa yang memeluk agama Katholik dan Protestan di abad ke-16 dan 17 tidak disebabkan karena alasan agama tetapi lebih dikarenakan oleh intrik-intrik politik semata.Keduanya lupa bahwa intrik-intrik politik itu selalu saja tak lepasdari motif agama dari para pimpinan agama terutama gereja Roma Kepausan. Gereja ini selalu menunggangi kekuasaan sipil untuk menjalankan maksud-maksud agamanya termasuk menggunakan pemaksaan dan kekerasan bagi yang melawan kebijakan dan dogma-dogmanya. Tentu saja gereja ini selalu menggunakan kekuatan politik dan militer dari negara-negara yang sudah memeluk atau berhaluan dan agama Katholik. Jean Mason mencatat bahwa hampir sejak permulaan reformasi agama, dijalankan di dalam politik pada masa itu. Secara pasti, banyak pangeran dari Jerman yang sudah menjadi para penyokong reformasi Protestan yang secara jujur sudah berkomitmen dengan doktrin-doktrin baru. Dan faktanya para pangeran itu berlawanan ambisi-ambisi politik dari Kaisar Romawi Suci (Holy Roman Emperor), yakni Charles V, yang sudah muncul sebagai pembela dari gereja kepausan. Namun, Henry VIII dari Inggris secara sempurna berkemauan keras untuk menggunakan ketidakpuasan agama untuk mendatangkan tekanan pada kepausan untuk mengakhiri perkawinannya dengan Catherinadari Aragon. Pemutusan hubungannya dengan Roma menciptakan lingkungan-lingkungan baru yang mengijinkan Inggris untuk menjadi negara Protestan. Situasi berbeda di bagian lain di Eropa. Di Spanyol, Kaisar Charles memaksa konformitas bagi gereja orthodoks oleh menggunakan Inkuisisi Spanyol yang sudah eksis. Inkuisisi berakar dari opini-opini bertentangan dengan doktrin gereja yang diterima. Bahkan Inkuisisi ini juga aktif di Italia.

Bersambung ……

Catatan Kaki
Hendrikus Berkhof, Sejarah Gereja (Kwitang, Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1997), bab. 17.5, hlm. 67 dan bab. 26.2, hlm. 89.
John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs: Kisah Para Martir Tahun 35-2011, terjem. Johny The (Jogyakarta: Penerbit Andi, 2001), hlm. 47, parag. 4
Inkuisisi adalah agen resmi dari Gereja Roma Khatolik melawan bidaah pada Abad Pertengahan. Itu melakukan dua perkara penting. Pertama, itu mengelurkan satu daftar (Index) dari buku-buku terbitan yang dilarang sebab itu berisikan kebidaahan. Yang setia dilarang untuk membaca buku-buku itu.Kedua, itu, mengusut para individu yang berpikir salah terhadap kebidaahan. Versi-versi kemudian dari Inkuisisi memiluki kekuasaan yang mengggunakan siksaan atau ancaman penyiksaan untuk memperoleh pengakuan-pengakuan dan pertobatan-pertobatan keagamaan. Itu memiliki kekuasaan untuk memerintahkan eksekusi-eksekusi. Metode standar adalah membakar hidup-hidup para bidat, atau menghukum mereka di hadapan publik. Perbuatan nyata dilakukan oleh para penguasa yang berwewenang secara sipil. Nama lenggap dari Inkuisisi adalah The Sacred Congregation for the Propagation of the Faith (Jemaat Sakral bagi Perambatan Iman, bahasa Latin: Sacra Congregatio de Propaganda Fide) dari Gereja Katholik. Inkuisisi itu berkebang dalam beberapa tahap. Inkuisis pernamanen pertama didirikan pada tahun 1229. Itu dijalankan oleh Ordo Dominicans diRome. Pada tahun 1478 raja Ferdinand II dari Aragon dan ratu Isabella I dari Castilemendirikan Inkuisisi Spanyol . Pada tahun 1542 Paus Paulus IIImendirikan nama baru yakni The Congregation of the Holy Office of the Inquisition (Jemaat Jabatan Kudus) sebagai satu majelis pengadilan dengan para cardinal dan para pejabat lainnya. Versi ini mengawasi Inkuisisi-Inkuisisi lokal di negara-negara lain, dan juga memerikas kasus-kasus penting dari Italia. Kasus paling penting adalah yang berlaku terhadap Galileo Galilei pada tahun 1633. (Lihat ulasan tentang “Inquisition”, Simple English Wikipedia dalam diakses tanggal 20 April 2015, dalam situs http://simple.wikipedia.org/w/index.php?title=Talk:Inquisition&action=edit&redlink=1).
Pada tahun 1319, hari Kamis sore di hari Sant-Laurent (9Agustus), Reverend Father di dalam Kristus Tuhan, Jacques, Uskup Lyons yang mencakup desa Pamiers oleh anugerah Allah, duduk di kastil des Allemans, dihadiri oleh saudara Gaillard de Pomiès, kepada siapa yang mulia Tuan Inkuisitor Carcassonne sudah menugaskannya, dan oleh Tuanku Pierre du Verdier, diakon kepala Majorque, sudah menghadirkan Huguette de la Côte (istri dari Jean Marinier), ke hadapan keuskupan Lyon, dimana oleh kepercayaan istrinya sendiri maka Jean Marinier, warga Arles, yang ia sudah ditahan dalam penjaranya dengan alasan tindakan-tindakan tertentu yang dibuat melawan mereka, terhadap mana ia tertuduh dengan kuat. (Kesaksian sejarah ini telah dapat pada tanggal 15 Juli 2013 dalam situswww.sjsu.edu/people/nancy.stork/courses/c4/s1/Huguette_draft_2.doc)‎
Lihat buku “Huguette, Wife of Jean de Vienne” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dari bahasa Prancis oleh Dareth Pray, SJSU Fall 2006, diakses dalam pada tanggal 15 Juli 2013 dalam situswww.sjsu.edu/people/nancy.stork/courses/c4/s1/Huguette_draft_2.doc)‎.
Baca ulasan Benjamin Wiker, The Myth of Religious Violence, diakses tanggal 20 April 2015 dalamhttp://www.catholiceducation.org/en/
Ibid.
Ibid.
Lihat artikel Jean Mason, An Introduction to Early Modern European History(16th & 17th Centuries), diakses pada tanggal 20 April 2015 dalam http://www.likesbooks.com/
Ibid.
Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *