Edisi 13 November 2015

Pemimpin Terbaik

Memasuki akhir tahun seperti sekarang ini, adalah masa di mana terjadi proses pergantian kepemimpinan di berbagai tingkatan di organisasi gereja kita. Setelah minggu sebelumnya di Uni Indonesia Kawasan Barat telah terpilih officers-nya, Uni Timur sementara menunggu-nunggu dan selanjutnya akan turun ke berbagai daerah/konferens dan bersamaan dengan itu di jemaat-jemaat. Proses pemilihan pimpinan menjadi perbincangan serius di kalangan tertentu. Siapa yang akan menjadi pimpinan terkadang menjadi rebutan yang tidak jarang menimbulkan perpecahan di kalangan umat. Proses pemilihan tidak jarang dipermasalahkan apalagi bila figur yang didukung tidak terpilih. Sebut saja kisruh di Uni Indonesia Kawasan Barat di mana sekelompok orang yang menamakan kelompoknya Petisi 50 yang tidak puas dengan proses dan hasil yang didapat.

Memilih seorang pemimpin tidak boleh sama seperti “memilih kucing dalam karung”. Seorang pemilih harus benar-benar mengetahui siapa yang dipilihnya, latar belakang yang akan dipilih, prestasi-prestasi yang pernah dicapainya, bila dia pernah gagal maka pemilihpun harus mengetahui kenapa kegagalan itu terjadi, apa kelebihan dan kekurangan dari figur yang akan dipilih dan perbandingan dengan calon yang lain.

Semakin besar organisasi maka biasanya semakin kurang informasi yang diketahui pemilih mengenai figur calon yang akan dipilihnya sehingga ada cara-cara yang ditempuh sehingga para pemilih akan lebih mengenal calon yang akan dipilihnya, di antaranya :

1. Panitia Pemilih membuat CV yang lengkap untuk dibagikan ke semua pemilih.
2. Memberikan kesempatan kepada calon untuk memaparkan program kerja bila terpilih.
3. Membentuk ”Team-team kampanye” untuk mempromosikan calonnya dan melobi pemilih tertentu untuk memilih calon tertentu.

Sebenarnya ketiga cara di atas dapat dikategorikan sebagai kampanye namun penting tidaknya diterapkan dalam pemilihan pimpinan institusi gereja harus diperhatikan. Bila semua calon bukan tipe yang ambisius maka bagian kedua masih dapat diterapkan karena pemilih dapat menilai program kerja yang lebih baik dari para calon namun hal ini akan sangat sulit karena para calon akan dengan mudah terpancing melaksanakan kampanye negatif dan sama seperti kampanye di parpol bisa saja banyak yang disampaikan tidak dapat dilaksanakan setelah terpilih dan hal ini akan memicu masalah di kemudian hari. Untuk bagian ketiga, tidak dapat dipungkiri, hal inilah yang memancing perpecahan, perang dingin sampai perang panas dan permusuhan di antara pemilih.

Semoga pemimpin yang terpilih adalah pemimpin terbaik yaitu pemimpin umat yang rendah hati, pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas, pemimpin yang memiliki integritas yang tinggi yang sanggup mempersiapkan umat menjadi pewaris kerajaan Surga.

Pada buletin edisi minggu ini kita disuguhi dengan berbagai artikel dan berita. Di rubrik Renungan, pendeta Rein Kesaulya, mantan ketua UKIKT mengingatkan tentang figur pemimpin yang sesuai dengan Alkitab. Di bagian Opini, Govert Waramori dari Papua menyinggung mengenai Suksesi Keputusan Sukses. Beberapa artikel lainnya akan ikut mewaranai buletin ini, dengan harapan semua yang kami sajikan akan menjadi berkat buat anda dan keluarga.

Salam dari kami,
Herschel Najoan
Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *