Indahnya Pujian

  • Post author:
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:4 mins read

Dalam keseharian mau pilih mana, dapat sanjungan atau kritikan? Kalau boleh memilih tentu akan senang menerima sanjung. Pujian adalah hal positip dan menjadi sesuatu komoditi murah meriah asal disampaikan dengan tulus dan benar. Ada banyak hal yang pantas untuk seorang mendapat pujian atau menerima penghargaan. Bisa saja itu didapat karena prestasi yang mencengangkan, pencapaian yang spektakuler, keberhasilan dalam karir, pengaturan yang mantap di jemaat ataupun ketika membawa jiwa kepada Tuhan. Ada pula sebagian orang yang senang mengejar pujian. Mereka dibagian ini suka bekerja hanya oleh karena pamrih. Ada maksud dibalik sibuk. Akan menjadi sangat giat kalau diperhatikan dan menjadi begitu rajin bila di ekspose. Disamping itu bagi mereka yang jeli akanlah gampang membedakan, mana yang murni pujian dan mana yang diberikan karena ada maunya.

Bagaimana reaksi anda bila mendapat sapaan basa-basi seperti “luar biasa, kamu kelihatan cantik dengan kombinasi kain kebaya” atau “kamu nampak gagah dengan potongan rambut cepak”. Juga ketika menerima pujian entertainment seperti ini “sudah lama tak jumpa, tapi koq tetap muda saja”? Banyak reaksi yang muncul. Ada yang menyambut ringan karena ucapan itu sudah umum sekedar pembuka bicara. Ada yang gembira ria menerima ungkapan tulus seperti itu “Oh really? Is that so?” Ada yang pintar menyembunyikan perasaan sehingga ucapan pujian diterima secara dingin. Namun, walau ekspresi wajah tanpa reaksi bahkan seperti menolak namun bukan tidak mungkin pada sudut hatinya ada perasaan nyaman yang menggelitik. Memang, ada banyak hal positif yang menjadi strength seseorang untuk boleh diangkat menjadi komendasi. Disini memerlukan kejelian untuk melihatnya.

Tapi kadang kita terkejut melihat sesuatu perubahan yang terjadi kepada seseorang dari waktu ke waktu. Dulu ketika baru menjabat, bicaranya begitu lembut tetapi setelah waktu berlalu nampak perubahan. Dalam perjalanan kepemimimpinannya diwaktu berbicara masih nampak senyum tersungging dibibir tapi dalam hati tersinggung. Masih ramah tapi dalam hatinya menyimpan marah kalau tidak mendapat puja dan puji.

Banyak orang tahan menerima kritikan tapi gagal menyikapi sanjungan. Mendapat penghormatan, penghargaan, pujian bagi para pemimpin adalah sesuatu yang wajar bahkan perlu mendapat porsi dua kali. Tetapi bagi para penerima yang umumnya lagi menjabat posisi di suatu jenjang, perlu berhati-hati. Pujian itu ibarat perfume, cocoknya dihirup bukan ditelan. Seperti layaknya minyak wangi, setelah waktu beselang harumnya akan hilang. Tersanjung, boleh saja tapi awas! jangan dimakan, karena akan membesarkan ego dan sombong.

Dari keseringan dihormati dan terbiasa duduk dikepala meja kemudian berobah manja ingin didahulukan. Kalau bapak Ketua belum hadir, acara malam sembahyang jangan dulu dimulai, kalau pendeta belum tiba jangan dulu berdoa makan. Keadaan seperti ini sangat mungkin akan berpengaruh pada perangai si pejabat tersebut. Sebenarnya walau nama kita tidak lagi dipanggil Sdr. Polan sebab sudah punya nama baru sesuai jabatan sebagai seorang pimpinan namun perlu untuk tetap menyadari bahwa diposisi apapun, sejatinya kita adalah seorang pelayan. Dengan demikian tidak perlu kecewa atau menjadi kurang hati apalagi menyimpan perasaan dendam kalau dalam suatu event acara secara tak disengaja kita seperti terlupakan, terdahulukan, terpinggirkan. Juga tidak perlu bersusah hati kalau tidak lagi disapa dengan panggilan kehormatan Sdr. Ketua karena telah terjadi transfer of responsibility yang menjadi aturan setiap tahun.

Sukacita berlebihan menyikapi ucapan “Selamat and congratulation” dapat mengantar seseorang pada keangkuhan sekaligus kejatuhan. Ada buktinya di perjanjian lama. Tentang seorang raja yang khilaf mencari puja-puji bagi diri sendiri gantinya kepada Tuhan. Namanya Raja Hiskia. Sang raja akhirnya tergelincir menjadi alpa menjaga rahasia sebab tersanjung oleh ucapan selamat sembuh dari sakit, kepujian karena kekuatan mengusir Raja Sanherib dari Asyur dan oleh berlimpahnya harta permata. Sayang seribu sayang, kalau ada pujian yang kecil-kecil, itu di teruskannya kepada Tuhan tapi pujian tingkat internasional seperti yang disampaikan utusan Raja Merodakh Baladan dari Babilon, ai ai ai mana tahan! Dan pujian itu direngkuh jadi miliknya. (2 Raja-raja 20 :12-18).

Sangat menggembirakan bila menerima ucapan terimakasih, appreciation maupun penghargaan karena banyaknya jiwa yang dibawa kepada Tuhan bukannya karena kita mempunyai kelebihan lahiriah, materi maupun uang. (Ulangan 8:18)

Dalam pelayanan, menerima pujian, mengapa tidak! Tetapi lanjutkanlah itu kepada Tuhan yang memberi kekuatan, kekayaan, kejayaan dan akal budi. Kalaupun ada yang tertinggal, itu hanyalah perfume.

Leave a Reply