Zona Nyaman

Di akhir tahun ini, ketika dalam persiapan menggelar konser Natal, saya menyodori komposisi lagu yang akan dimainkan kepada anak-anak didik. Mereka terkejut dan sedikit ragu melihat begitu banyaknya jumlah birama yang akan dimainkan, lebih dari 130, hampir dua kali lipat dari jumlah lagu biasa. Meski awalnya merasa kurang mampu, namun setelah diyakinkan dan didorong dengan sedikit ‘tekanan’, merekapun berhasil memainkan lagu medley tersebut. Sebagai penggubah, saya tahu benar bahwa anak-anak itu mampu memainkannya, karena komposisi itu memang dibuat sesuai kemampuan mereka. Yang mereka perlukan adalah melewati sebuah proses belajar, berusaha alias latihan.

Dalam hidup ini, banyak kali kita ingin mendapatkan kenikmatan yang luar dari biasanya namun enggan untuk mengambil tantangan yang lebih besar. Boleh dikatakan, kita umumnya betah berada di zona nyaman yang dalam bahasa Manado digambarkan sebagai kondisi yang ‘taiko mau’. Padahal, justru hal yang terlihat lebih sulit akan menghasilkan kesenangan yang jauh lebih besar daripada kesulitan yang nampak pada awalnya, seperti kata orang bijak.

Abraham menerima panggilan Tuhan untuk keluar dari tanah Mesopotamia bukanlah untuk memperoleh sesuatu yang lebih besar. Ketika dipanggil Tuhan, Abraham memiliki segala-galanya yang diinginkan manusia di zamannya, saat ini senilai dengan mobil, tanah, rumah, pegawai yang banyak serta isteri yang cantik. Ia memilih untuk mengikut perintah Tuhan karena imannya, Ia tahu bahwa Allah itu segala-galanya. Berbeda dengan Abraham, Musa keluar dari kemewahan istana Mesir karena tidak punya pilihan, tetapi harus menyelamatkan nyawanya dari murka Firaun.

Kesamaan kedua tokoh Alkitab ini, mereka sama-sama ‘terasing’ di padang belantara selama sekian waktu. Keduanya meninggal di situasi yang mirip; sebelum bangsa Israel tiba di tanah yang dijanjikan Tuhan. Namun, dua orang ini telah melaksanakan dengan setia rencana Tuhan, tidak saja bagi kaumnya, namun bagi generasi yang kemudian.

Allah memanggil kita keluar dari dunia untuk masuk ke dalam suasana yang berbeda-beda dengan alasan yang berbeda-beda untuk memberitakan perbuatan-perbuatanNya yang besar. Terkadang panggilan itu seperti tidak masuk akal, bahkan menyakitkan sama seperti Musa ketika meninggalkan ‘istana’. Namun, Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bari mereka yang mengasihi Dia dan ini membutuhkan respon yang penuh sehingga proses keselamatan itu berlangsung sepenuhnya bagi saudara dan saya. Dan, ketika keselamatan itu tiba, kita akan masuk ke dalam jamuan pesta dengan ucapan “.. masuklah ke dalam sukacita Tuanmu!”.

Tuhan memberkati kita sekalian.

Leave a Reply